Kamis, 17 Mei 2018

ANTARA AKU, KAMI/KITA DAN MEREKA

Waktu berlalu meninggalkan banyak cerita antara aku, kami/kita dan mereka.
Setiap awal ramadhan yang teringat hanyalah bayangan wajah orangtua yang telah tiada, namun sampai kapanpun akan selalu ada dalam ingatan.. untaian do'a mengalun dalam tiap sujudku..
Masih teringat bagaimana aku harus mengatur waktu untuk aktifitas pekerjaanku, keluarga dan mereka. Kadang lelah memberatkan langkahku, namun lelah telah menjadi sahabat baik kita, aku dan suami yang selalu meberikan motivasi dan membangkitkan kembali langkahku.
Kita yang membina satu team yang solid dalam menghadapi kesulitan sebesar apapun, dengan keyakinan bahwa semua atas kehendak Nya dan mengembalikan semua hanya pada Nya..
kebesaran cintanya, rasa tanggungjawabnya, kesabarannya membuat langkahku semakin kuat.

Diawali dengan ujian cinta yang dipisahkan oleh selat sunda, Sumpah jabatan kami yang menyatakan siap ditempatkan di seluruh wilayah Indonesia bagian barat membuat kita menjalani tugas pertama ikatan dinas sebagai guru di masing-masing daerah yang terpisah jauh, namun ketetapan Tuhan menentukan kita bersama membangun keluarga hingga saat ini. 
Saat itu profesi guru hanya dipandang sebelah mata, hidup kami penuh dengan kesederhanaan. Tinggal di rumah kontrakan kecil dipinggir jalan raya yang terkadang membuat anak pertama kita terbangun karena kebisingan kendaraan yang lewat. Kesederhanaan ini yang telah melatih kita menjadi satu team yang kuat dan mendidik kita menjadi lebih kuat dalam menghadapi ujian apapun.

Anak pertama kami tumbuh menjadi seorang anak laki-laki yang sehat kini menjelang dewasa, cerdas, kuat dan mandiri, menjadi anak kebanggan keluarga.
Ujian berikutnya harus dhadapi saat anak kedua divonis gangguan pendengaran karena virus rubella dan CMV, entah dari mana datangnya virus itu hingga dapat berkembangbiak dalam tubuh gadis kecil kita. Rasa sedih luar biasa menyelimuti hari-hari selanjutnya, namun cinta kasih mereka untuknya menjadikan kekuatan yang luar biasa.  Doa-doa mereka selalu mengalir untuk putri kecil kita, dukungan moril bahkan materil diberikan demi kesembuhannya. Takdir berkata lain, putri kecil kita dinyatakan tuna rungu total karena virus itu sudah merusak syaraf koklea kedua telinga nya.. hingga syaraf pusat telinga tidak dapat menyampaikan impuls ke otak.

Dari putri kecilku, kami belajar sabar dan ikhlas dalam menerima semua ketetapan Nya, kesabaran mengalahkan egoku yang tak pernah berhenti menyalahkan diri sendiri, karena ternyata virus itu pun positif bersarang dalam tubuhku..

Kita tidak dapat melawan takdir, bagaimanapun semua harus dihadapi..

Bagaimana perjuangan aku, kita (aku dan suami), kami (aku dan keluarga) dan mereka (kedua orangtua dan mertuaku) dalam menghadapi setiap ujian hidup?? nantikan di tulisanku berikutnya...

#30DWC #30DWCJilid13 #Squad8 #Day1





1 komentar:

  1. Inspiratif dan memotivasi untuk selalu menerima dan menjalani hidup ini apa adanya

    BalasHapus

IKHLAS PADA SEMUA KETETAPAN

Dunia ini adalah panggung sandiwara, semua berada dalam ketetapan dan diatur oleh sutradara Yang Maha mengatur seluruh alam dan isinya.  Man...